Tampilkan postingan dengan label life lessons. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life lessons. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Mei 2011

Kota Tapi Pinggir, Pinggir Tapi Kota

Semalam gue dan temen-temen gue membahas soal masalah pergaulan.
Bukan kurang kerjaan, tapi kita memang lagi ngumpul untuk sebuah tujuan mulia, menemukan spirit kontingen untuk di bawa ke REACH nanti. (klik REACH-nya kalo kamu mau tahu apa itu REACH, iklan sedikitlah. hehe)

Spirit itu semacam suatu perubahan yang ingin lo bawa bagi diri sendiri maupun kontingen yang akan maju di REACH nanti. Kerenkan?
Makanya spirit ini gak boleh ASJAD - asal jadi, karena perubahan ini tentu akan berdampak besar buat diri lo sendiri dan orang lain, dalam kasus ini, orang lain di sini buanyak jumlahnya.
Mungkin kalo lo baca tulisan-tulisan gue sebelomnya (amin dan terimakasih. hahaha), lo gak terlalu asing lagi soal ini. Dimana setahun yang lalu gue maju memimpin kontingen DKI Jakarta dengan spirit 'BERANI MENGEJAR PASSION' dimana nama kontingen gue pada saat itu 'ACTION (Act Your Passion!)'.
Bangga berjuta-juta ngetiknya. hehehe...

Nah kembali ke obrolan semalam.
Selama kurang lebih 3 jam, kita ngobrol tentang kenapa jadi anak muda gaul itu susah, terutama di tengah para pelaku bincang malam tersebut.
Dilema susah gaul antar kelas jadi trending topic malam itu.

"gue pengen banget temenan sama si A - sebut saja Nicky (bahaha..), tapi takut ga nyambung... Dia keren banget, gue pengen kaya dia, punya mobil, bla.. bla.. blaa"

"kalo punya duit, gue yakin gue bisa gaul sama si B - sebut saja Nala, kalo sekarang gue nyapa aja takut."

Kurang lebih begini kutipan-kutipan dialog semalam. Makin malam, rasanya jadi malam curhat yang kalo boleh gue kasih judul..
"Curahan Hati Abege Kere' (pinggiran) Jakarta kota Metropolitan".
Menjual gak judulnya?

Rata-rata di ruangan itu jadinya merasa bahwa kalau kaya baru bisa gaul, sama yang kaya terutama.
Masalahnya, di ruangan itu, yang bisa dikatakan kaya, paling cuma 2.
Kayaknya itu juga.
Dan masalahnya lagi, kalau nasib baik, iya bisa kaya (entah berapa lama lagi itu).
Kalau nasib kurang baik, udah makan waktu lama tapi gak kaya-kaya juga?

Masalah kurang gaul ini sadar gak sadar bikin kita 'gak kemana-mana'.
Dalam arti, lingkup pertemanan kita sempit.
Mungkin banyak, tapi di situ-situ aja.

(Mungkin lama-lama gue kenal dan dikenal oleh warga satu Dadap! bwahaha... banyak, tapi gak kemana-mana..).

Parahnya lagi, ini juga salah satu yang baru gue sadari semalam,
hal ini bikin kita 'gagap' beretika ketika harus berhadapan dengan orang lain, terutama ketika mendapati dunia yang lebih luas dan kelas yang lebih beragam.

Saat ini gue sendiri sedang ketar-ketir, gue dihadapkan pada sebuah kesempatan yang gue idam-idamkan, tapi di satu sisi, tuntutan kapasitas beretika gue jadi PR besar yang bisa jadi batu sandungan.

Malam itu, gue merasa ini gak hanya jadi batu sandungan buat gue.
Tapi kami semua di ruangan itu, mungkin kelihatannya oke-oke aja, tapi begitu dilihat baik-baik, kami memiliki dunia yang sangat sempit dibalik keinginan-keinginan kami yang sangat besar, dan tentu saja membutuhkan space yang lebih besar.
*miris*

Gue gak berasal dari hutan belantara, tapi dari pinggiran kota.
Kota tapi pinggir.
Pinggir tapi kota.
*serba salah* - padahal gak ada yang salah.

Latar belakang lingkungan tempat tinggal dan keluarga gue isinya layaknya gambaran pinggiran kota yang mungkin pernah lo dengar.

Problem ekonomi menengah kebawah (cenderung melarat), ada yang bapaknya tukang judi, tukang tipu, tukang main cewek, ibunya jadi bandar singapur (sebutan untuk semacam perjudian), kabur ninggalin anak pergi ke Taiwan. anak broken home, sekolah belom selesai udah hamil, dan semacamnya.

Kami di ruangan itu berangkat dari garis latar belakang yang hampir sama.
Mungkin ada yang lebih baik, ada yang lebih buruk.
Mungkin benar, punya duit akan bisa bikin lebih gampang.
Itu akan jadi 'tiket masuk' ke pintu pergaulan manapun.
Tapi malam itu gue juga percaya ada hal lain yang pasti bisa jadi 'tiket masuk'.

Mungkin iya, karena latar belakang kita bukan siapa-siapa atau bukan apa-apa (mungkin itu orang tua, keluarga, ekonomi), akan jadi lebih sulit.
Tapi, jadi sesuatu dengan latar belakang oke, itu biasa. Tapi kalo kita jadi siapa-siapa (jadi sesuatu) dengan latar belakang biasa aja, itu baru keren! -inget kata-kata Renny Turangga. hehehe...

Well, saat ini kami masih mencari tiket lainnya itu.
Nanti kalo udah ketemu, gue bagi.
Kali berguna buat sesama bokek. *loh*
hahahaha....


Rabu, 16 Februari 2011

Balada Jatuh Cinta

Miss you so bad my Big Bear..

Heart you, Mr. A, Mr. B, Mr. C .... Mr. Z ♥

You Know Me so Well..
Hwahaha.. gak, gak.. yang ini enggak.
Paling gak, gue belom pernah baca kalo yang ini.

Barusan gue membuka facbook dan menemukan beraneka ragam posting status dari beberapa kawan yang tampaknya sedang dilanda balada asmara hebat, entah itu yang gusar, galau, sampai jatuh cinta sejatuh-jatuhnya.
atau sebaliknya, status-status keren berbahasa inggris yang dibuat sedemikian rupa untuk menggambarkan hati yang kelam sekelam-kelamnya sampe hitam gak kelihatan.
Sayang, status-status seperti itu sering kali salah dalam penggunaan grammar!
Alhasil, suasana yang terbangun rusak seketika ketika ada comment dari orang-orang jahat (yang tidak peka suasana) yang mengoreksi penggunaan grammar pada status tersebut.
Naas.
"woy! tensesnya salah tuh!"
Hahahhah...

Lucu lagi, gue membaca status yang bertuliskan "miss you my big bear" tadi, kepala ini otomatis merujuk kepada si kekasih hati empunya status itu dan mendapati pacarnya itu gak ada mirip-miripnya sama beruang, apalagi besar.
Jadi asumsi gue, antara si Big Bear ini selingkuhannya atau dia kangen sama boneka beruang pemberian kekasih hatinya itu.
Tapi ternyata itu si pacarnya, bukan bonekanya.
Jatuh cinta, "mini lele" bisa berubah jadi "big bear" ternyata.
Dashyatnya kekuatan cinta.
Padahal jelas-jelas lebih mirip ikan lele. *jahat

Biar kesannya misterius, si doi kita sebut dengan penggunaan inisial.
Padahal seantero bumi udah tau itu siapa,
tapi gakpapa.. biar romantis.
Kalo di tengah-tengah jalinan asmara hati berpindah,
inisial berganti, bisa diakal-akalin.

Misalnya :
Love you Mr. A ♥
lusa.. dia lupa,
Miss you Mr. S
♥
*jangan lupa bubuhkan tanda cinta di akhir kalimat.

Bisa aja ngeles kalo itu status tetep buat si doi cuma ini pake nama tengah (misal namanya : Anto Suprapto).
Padahal "S" di atas untuk beruang imut lainnya bernama Steven (misalnyaaa...).

Udah ah, ngaco.
Intinya menurut gue jatuh cinta membuat otak menjadi kreatif, imajinatif (ini terutama!),
cerdas, sekaligus bodoh,
Di waktu yang sama.

Tapi tetep aja,

Hidup gita cinta masa muda!!!

Hwahahaha..

Kamis, 20 Januari 2011

Pizza : a pan and a slice

2 jam terjebak macet di sepanjang Jalan Panjang (dari Permata Hijau sampe ke kampus gue), gue sama Putri, si kawan baru yang tampaknya sealiran, berusaha membunuh waktu dengan sebaik mungkin.
Tapi sebaik-baiknya, mau baik kayak apa juga berada di dalam mobil dengan laju maju ke depan seuprit-seuprit.
Gak juga, gak buruk.
Kita tukeran cerita, dasar cewek..
Mulai dari cowok.. Cina, Indo, India, Bule (Bule Amrik, Bule Spanyol, sampe Bule kampung), semua dibahas.
Ternyata masih belom sampe juga ke tempat tujuan.
Ganti topik, balik lagi, ganti lagi.. sampe deh. hahaha

Begitu juga arah kembali.
Bedanya, di perjalanan pulang bahan obrolan kita agak sedikit lebih berbobot.
Agak sedikit bergaya, kita membahas isu rasisme di Indonesia.
Gayaaa..
Di tengah obrolan sotoy sok pinter itu gue malah teringat (entah gimana caranya)..emm..sebut saja masa-masa sulit di tengah putaran roda kehidupan. Bahahahha..

Waktu kecil, gue terbiasa kemana-mana diantar sama bokap.
Kemana-mana naik mobil (apapun mobilnya, yang penting naek!)..
Gue punya kamar sendiri, yang gak perlu gue bagi dengan siapapun.
Gue gak perlu berbagi atau berebut tontonan TV dengan siapapun.

DENGG!!!
Tiba-tiba..
Gue terdampar di rumah nenek gue dengan ukuran gak lebih besar dari lantai satu rumah gue dulu.
Gue sekamar sama orang tua gue, dengan ranjang yang biasanya gue gunakan untuk sendiri, sekarang bertiga.
Gue harus mompa sebelum mandi, percaya atau enggak air yang keluar sering kompakan sama sayap kecoa, jelek-jelek kecoanya ikutan keluar serasa main perosotan di waterbom.

Ini yang bagi gue pada saat itu lebih buruk..
Pizza ukuran personal yang biasa gue habiskan sendiri, saat itu gue harus belajar berbagi dengan sepupu-sepupu gue yang lain. eits, bukan satu loyang, gue harus berbagi satu slice pizza.
Gue gak bisa lagi nonton Detective Conan di Indosiar jam 8 pagi dengan tenang, tontonan juga ternyata harus dibagi, dengan Doraemon yang tayang di jam yang sama.
(kenapa gak cari jam yang lain sih?)
Semua dibagi.
Bahkan waktu, uang saku (yg lama-lama gue sadari gue gak dapet uang sakuu!! hahahha), bekal, juga pakaian.

Tenang-tenang, ini bukan tulisan miris ala drama.
Itu gue alami pertama kali sewaktu gue duduk di bangku SD.

Percayalah, kalo kata orang roda itu naik turun, memang benar adanya.
Gue naik lagi, gue mendapatkan kembali apa yang gue miliki sebelumnya.
Sebelum kemudian.. gue jatoh lagi!
Buahahahahhaa...
Gue gak minat membuat "jatoh part 2", tapi kalo entah sehabis ini atau kapan tau gue berhasrat mau berbagi tentang itu. Pasti akan gue lakukan.

Gue memasuki masa remaja (baca : abg labil) di masa "kepeleset" gue yang kedua.
Gue lebih suka kata "kepeleset" ketimbang jatoh. hahahha
Percayalah, jadi abg di tengah masa seperti itu gampang-gampang susah.
Waktu kecil gue gak terlalu berasa, cuma urusan Tv dan Pizza aja gue keberatan.
Begitu jadi abg, nah jadi semakin pelik.
Hahahhaha...

Percaya deh, rasanya gak kalah seru dibanding Sherina sama Derby Romero di Petualangan Sherina. Beda latarnya aja, mereka di hutan, gue di Dadap! bahahaha..
Bukan juga judulnya jadi "Petualangan Dadap" ya. Hahhaha...

Hemm.. Apa yaaa?
Hahaha..
Lucu aja ngebayanginnya, walau waktu menjalaninya gak selucu ini.
Pasti. Sesakti apapun anak itu! haha..
Kaget sampe bego, panik sampe tolol..
Sedih melihat pizza gue dimakan, gak rela.
Berat rasanya gak nonton acara favorit yang biasa lo tonton hampir setiap minggunya dengan penantian 6 hari penuh.

Well,
buat gue, semua yang gue alami di atas berharga banget.
Setiap orang punya pelajarannya sendiri sesuai porsinya, menurut gue gitu loh ya. Hehehe..
Dan yang di atas, jatah gue ternyata.
Gue gak tau apa lagi di depan, we won't stop learning, right? :D
Tapi gue bersyukur banget sudah sampai seperti gue yang saat ini,
bersyukur..
bukan puas.. hehehhehe
(tetep pasang gayaa sejutaaa!)
hahahhaha

Dadapsari,
Davy
Hahahhaa....

Minggu, 26 Desember 2010

Gimana Kalau..?

Beberapa hari yang lalu, di tengah perjalanan gue menuju JP (Jalan Padang) untuk berkerja, eh nggak, untuk bertugas (gue lebih suka kata "bertugas", rasanya lebih cocok untuk apa yang gue lakukan. haha), well.. ga di tengah, itu sudah hampir sampai.
Anggap deh di tujuh-per-delapan perjalanan gue, gue berpapasan dengan seorang ibu-ibu tua di tengah jalan, dimana dia berdiri diantara jalur busway dan jalanan untuk pengendara umum.

Hari Rabu kalo gak salah hari itu, iya.. Rabu.
Si ibu mengenakan penutup kepala berwarna hijau terang, berkebaya motif bunga-bunga dengan warna yang pudar sana-sini, sembari membawa bungkusan plastik berwarna hitam.
Kulitnya coklat dan dipenuhi kerutan mulai dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
Giginya sudah tak lagi dapat dipejeng, lebih-lebih dijadikan model iklan pasta gigi (pasta gigi apa coba??)
Dan hitam matanya, tertutup katarak bak kapas putih yang membungkus warna hitam matanya.
Ternyata, dia sudah tak mampu melihat dengan jelas, tentu, selain ketajaman penglihatannya yang telah tertelan usia, juga karena katarak yang merayapi kedua matanya.

Mendung, gerimis.
Gue berniat melesat segera ke JP.
Malas sejuta bahasa kalo sampe kalah kebut sama hujan dan gue harus kehujanan atau nunggu, melipir entah dimana untuk berteduh.
Dikejar waktu, salah, di kejar ibu-ibu pertemuan tepatnya.
Tapi begitu mau nyebrang, gue heran kenapa si ibu tua tadi diam aja.
Maju enggak, mundur juga enggak.
Akhirnya gue yang uda setengah nyebrang, mundur lagi (jadi gue yang mundur).

Gue tanya si ibu maunya kemana dan dimana gue berdiri, kemana pula dia memandang.
Oke, kesimpulan sok pintar gue berbunyi dia gak bisa melihat dan parahnya gak tau ada dimana.
lah terus kok sekarang bisa nangkring di tengah jalan gini ya?
"Ke Manggarai, neng"
"Lah ini uda di Manggarai, Bu. Manggarai belah mana?"
"Eneng mau kemana?"
"Manggarai, Bu."
"Ya udah saya ikut eneng aja ya. Yuk."
Lho lho? *mulai bingung*
"Lha ibu mau kemana?"
Tiba-tiba nangis, "Saya mau pulang aja neng, ke Pasar Rumput"
Nah loh? mampus gue, bisa dikira nangisin nenek-nenek tengah jalan nih. Asal jangan dikeroyok masa aja. Terus sebenernya kemana dia maunya? Manggarai? Pasar Rumput?
*makin bingung*

"Jadi mau kemana nih bu?"
"Stasiun Manggarai neng"
Oh, oke. Bilang atuh bu ada embel-embel stasiunnya. hahaha
Dia gak tau naik apa, gue tanya sama abang-abang bajaj yang nangkring di situ, sejak si ibu berdiri di situ dan dia gak bergeming.
Si abang bajaj bilang naik metro mini (lupa kodenya berapa) yang ternyata nangkring di seberang tempat gue dan si ibu berdiri, oh juga abang bajaj beserta bajajnya.
Akhirnya gue tuntun si Ibu nyebrang menuju metro mini.
Sempat-sempatnya si Ibu curcol bahwa di tujuannya nanti dia akan dimarahi sama adiknya (yg entah kenapa gue tiba-tiba terbayang adegan nenek-nenek di maki-maki tante-tante, efek sinetron. Sebut saja "Cinta Toni atau siapa deh". Hwahahahahah)

Gue bingung sesaat, setelah gue naikin dia ke metro mini dan gue titipin sama salah satu penumpang (yang sekilas insting gue mengatakan dia bisa diandalkan), seandainya si Ibu udah sampe Manggarai, gimana ya? Sampe gak ya ke tempat adiknya?
Rempong juga ya naik metro mini, jalan aja uda susah.
Aduh.

Gerimis berubah menjadi rintik-rintik hujan dan butir airnya kian membesar.
O ow.
Gue buru-buru meninggalkan si ibu dan metromininya setelah si ibu berkali-kali meletakan tangan gue yang menggandengnya ke kepala dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Gue lari-lari ke JP.

Sorenya gue cerita sama Boy (catat, bukan Ongki Alexander di film "Catatan si Boy") dan dia bilang "kalo gue jadi lo mending gue naikin ke bajaj, dianter sampe stasiun n bayarin sekalian. Ongkos dia aja belom tentu punya, tau arah mau kemana kan juga enggak dia". Kurang lebih begini si Boy bilangnya.
Gue baru terpikir.
Tersentak.
Iya ya.. gue tau dan gak perlu diperjelas..
ongkos yang dimiliki si ibu sangat disangsikan.
Dia yang riskan banget naik metromini dengan keadaan gitu.
Dari stasiun dia tau mau kemanapun, juga disangsiin walau dia tau mau ke rumah adiknya.
Kenapa tadi gak gue naikin aja seperti yang Boy bilang.
Bukan.. gue bukan gak terpikir.
Tapi gue gak mau peduli sedikit lebih lagi buat dia.
Gue peduli gue yang harus segera sampe di JP, balapan sama hujan yang toh gak memburu.

Berhari-hari sampe hari ini, gue kepikiran sama si Ibu itu dan gue nyesel.
Dia sampe ga ya di rumah adiknya?
Bayar dan turun dari metromininya gimana ya? Ada yg bantuin gak ya? Gue ingat si abang bajaj yang cuma ngelirik si ibu tadi sejak dia berdiri bingung di tengah jalan, berarti ada kemungkinan gak ada yang bantuin ibu tadi donk?

Dimarahin gak ya dia sama adiknya?
Kalo dia berhasil sampe di rumah adiknya....

Gimana kalo, kita ketemu ibu-ibu tadi dan bayangin kalo itu nyokap kita?
Gimana kalo itu Ibunya si abang bajaj tadi? Apa dia masih diam aja pelongoin nenek-nenek buta arah di tengah jalan yang salah-salah bisa disamber bis?

Kamis, 11 November 2010

(un)Happy Ever After

Beberapa waktu lalu, di tengah perjalanan gue menuju JP (Jalan Padang) di siang bolong, gue mengingat-ngingat pembicaraan gue dengan salah satu teman lama gue, boleh dibilang lama.

Dia bercerita bahwa kini adiknya telah menikah. Waktu itu gue cukup kaget.
Ralat! Sangat! Sangat kaget.
Pasalnya adiknya hanya berusia setahun lebih tua (lebih sedap kalo dibaca lebih dewasa) dari gue. Dua Puluh berarti umurnya. Anggap saja sekarang gue sah sembilan belas.
Gue tidak bisa membayangkan dia, sebut saja Johan (kesamaan nama tokoh hanya kebetulan belaka, tidak disengaja), berkeluarga di usia sedini ini dan dengan keadaan belum siap.
Paling tidak menurut gue dia belum siap, dan sejuta umat diluar sana berpendapat demikian.
Tapi ya mau bagaimana lagi.

Ada informasi penting juga dibalik ini semua,
gue naksir berat sama si Johan ini waktu gue duduk di kelas 3 SD.
Sampai SMP, entah kelas berapa, gue masih naksir dia.
Tapi ini bukan faktor cemburu buta yang menyebabkan gue shock berat mendapati dia sudah menikah.
Bahkan ketika kakaknya, yang teman gue, sempat berniat menunjukkan foto pernikahannya. Untung niat baik itu diurungkan kembali olehnya.
Entah untuk alasan apa.

Selang beberapa hari dari pembicaraan gue dengan teman gue itu, gue bertemu dengan teman gue yang lain.
Bertemu untuk membicarakan pernikahannya di depan mata.
Kalau yg sebelumnya setahun lebih tua, ini setahun lebih muda.
Bedanya lagi, sebelumnya laki-laki, ini perempuan.
Pas deh. Dua sisi.

Gue sempat bertanya dimalam sebelum perjumpaan tersebut, kenapa nikahnya harus kejar tayang? Dia menjawab, "lo mau punya keponakan, Vy!".
Baiklah. Saya paham maksud anda.
Besar di daerah pinggiran kota yang cukup "brekele", gue sering mendapati situasi begini terutama di lingkungan sekolah gue.
Tapi belom pernah yang sedekat ini.

Dia teman seperjuangan sehidup semati gue jaman sekolah.
Ngangkot bareng, jalan kaki bareng, temen setia gue setiap mati lampu.
Temen yang sering gue utangin.
Kalo gue gak bikin PR, dia juga gak bikin.
Kurang apalagi coba?

Mereka belum siap, masih cukup jauh dari siap.
Mereka belum mapan, jauh dari mapan.

"lucu aja vy entar gue main sama bayi."
"gue bosen aja sama sehari-hari gue yang begini"
"kalo gak gini, dia gak diterima sama nyokap gue vy"

Will it become a funny story?
It's not a f**n reality show.

Is it a happy ever after story, just like in a fairy tale, a part where you meet a prince and getting marriage?
Is he the prince?
Will it become better?

Both of us know about it in a silence.

I remember what she ever said to me,
"somebody gets a chance to get out of here, somebody don't. Trapped by these situations."

Really?

Rabu, 03 November 2010

Ninja Hatori Bercadar Siap Ke Pesta

Semalam untuk kesekian kalinya rapat GM (Generasi Muda) membahas kisah-kisah anak GM Tegal Alur dimana tentu saja gue salah satu bagian dari daerah, itu mau tidak mau terseret.
Singkat cerita, arah pembicaraan membahas tentang segala daya upaya untuk menjadi eksis atau kerenlah.
Anak muda gitu loh, gak mau keren, bohong aja. Hahaha...

Mau tidak mau, kisah sancipa (tipu-manipulasi) yang pernah gue tulis juga sebelumnya di sini, di ceritakan kembali. Tetap tolol. Itu tidak berubah.
Mau diceritakan berapa kalipun, tololnya gak berkurang.
Mungkin suatu hari gue bisa cerita sama keturunan gue.
Tanda gue pernah jadi anak muda banget, tolong digaris bawahi ya, BANGET!.
Bahahaha...

Nah, bangun tidur tadi tiba-tiba gue teringat sancipa gue yang masih ketinggalan.
Rasanya kalo besok-besok gue nemu lagi, wajar.
Udah terlalu banyak dan tak berujung rasanya kisah sancipa tolol gue.
Gapapah, atas nama anak muda.
Hahahaha....

Beberapa tahun lalu, SMA kelas 2 kayaknya, banyak banget tuh acara sweet 17-an.
Setahun itu penuh sama acara ulang tahun 17-an (ya iyalah, seumuran).
Salah satu acara sweet 17-an yang heboh yang gue datangi waktu itu adalah acara ulang tahun teman baik gue sejak SD.
Sebut saja Wati. hahaha
(Namanya Lulu Anti.. hihi.. maap ya Lu!)

Dia menyelenggarakan acara ulang tahunnya di salah satu cafe di Sarinah sana.
Gue yang pada saat itu sudah berdomisili di Dadap (yang jauhnya setengah abad dari sana) sudah menyusun rencana matang untuk kepergian gue ke sana.
Gue akan diantar bokap ke rumah salah satu teman (teman baik gue dari jaman SD juga) dan breangkat bareng sama dia, naek mobil.
Dandan dan ganti baju, di rumahnya aja.
Beres donk? Gue bisa mendarat di Sarinah dengan aman sentosa.

Tapi nasib berkata lain, takdir memaksa gue mengubah semua rencana indah yang udah gue susun rapih jali itu.
Di tengah perjalanan menuju rumah Tya (teman baik dari jaman SD yg satu lagi tadi), ban motor bokap gue kena paku. Bocor.
Sama seperti ban motor bokap gue, gue menciut.
Waktu terus berjalan, hati ketar-ketir takut ditinggal.
Dugaan gak meleset, Tya menelepon.

"Dav lo dimana? Gue bener-bener mesti jalan sekarang nih. Gue bantuin pegang lilin soalnya, jadi mesti dateng duluan. Sorry ya, Dav?"
"Oh oke deh Ty, see you!"

Gue gak peduli lagi apa maksudnya megang lilin di acara ulang tahun? Ini mau doa lilin di goa maria? Rasanya Sarinah gak nyediain fasilitas itu. Pegang lilin di kuenya juga gak mungkin, lebih bego lagi.
Nyebut "see you" juga ragu, curiga gak jadi dateng.

Akhirnya bokap membesarkan hati gue dengan berkata dia bersedia nganter gue ke Sarinah.
Sayangnya bukan di situ letak masalahnya, Papa.
Gue yang pada saat itu termangu sambil nunggu ban motor bokap selesai ditambal, merasakan hati berkecamuk hebat.
Gue pengen banget dateng ke ultahnya Lulu, penasaran pula.
Tapi di satu sisi gue gak ngerti gimana mendarat di sana dengan dress tapi tetap rapih jali.
Dan pada saat itu, gue merasa gak oke juga naik motor ke sana. hwahahaha..

Jadilah gue meluncur ke Sarinah dengan perabotan lengkap.
Tetap pake dress! bahaha.. tapii...
Gue lebih mirip ninja hatori bercadar yang lagi mau balap motor ketimbang anak perempuan bersiap ke pesta.
Singkat cerita dengan kostum aneh luar biasa seperti itu gue sampe juga di Sarinah.
Gue deg-degan setengah mati sewaktu motor bokap melaju perlahan untuk nyari parkiran.
Daaaanggg!
Tepat di depan gue, sebuah mobil kijang krista berhenti dan menurunkan muatannya.
Baaa! Itu temen-temen gue.
Sepersekian detik gue ngeri mereka melihat gue dan berhasil mengenali ninja hatori bercadar berhelm di depan mereka adalah gue.
Tapi untungnya itu tidak terjadi.
Begitu sampai, gue melesat ke kamar mandi dan keluar layaknya anak perempuan mau ke pesta. Bahahaha..
Sang bokap menunggu dengan penuh sabar.

Gak pake babibu, gue melesat ke tempat pesta berlangsung.
Sukses! Semua berjalan lancar, sampe salah satu teman gue (teman baik dari jaman SD yang ketiga) bertanya gue ke sini sama siapa dan naik apa.
Dia tau benar gue gak punya mobil dan dengan polosnya berkata,
"Gila lo Dav naik motor sampe ke sini, dari Dadap kan jauh banget!"
Dia gak berniat jelek, dia memang begitu.
Dari jaman dulu, sampe sekarang.

Gue ngeles, "Oh enggaklah! Uda gila kali, Lys, kalo gue naik motor dari Dadap ke sini pake dress begini!".
Padahal emang begitu kenyataannya.
Bahahahahhahahhaha..
Aduh gue ngakak ngetiknya.
Bahahahha...

Si sahabat ajaib kemudian membalas, " Eh tapi gak juga sih, gue juga suka lagi dianter bokap naik motor yang jauh-jauh. Hahaha"

Hening. hahahah...
Dia anak orang kaya, tapi dia selalu pede dianter pake kendaraan apapun.
Berapapun rodanya, empat? dua? sembilan?
hahaha.. kendaraan apa yang rodanya sembilan?


Selepas makan dan begini-begitu gue pamit.
Mereka bilang gue terlalu cepat.
Tapi apa daya, gue bilang gue gak boleh pulang malam.
Padahal gue boleh-boleh aja, tapi bokap gue yang nungguin gue entah dimana itu yang jadi pertimbangan.
Kasihan juga. hehehe

Akhirnya gue pulang dan bersiap jadi ninja kembali.
Bokap gue ternyata menghabiskan waktunyadi bakmi GM dan bertanya-tanya kenapa gue cepet amat.
Ini mengapa gue sayang banget sama bokap gue. hahaha...
Tapi akhirnya kita pulang, kembali ke Dadap.
Gue cerita sama bokap gue tentang pembicaraan gue dan Ellys dan kita ngakak berduaan di jalanan.

Nyokap menyambut hangat kepulangan gue dan bokap,
dia cuma bertanya, "gimana?" sambil cengengesan.
hahahah...

Senin, 11 Oktober 2010

a White dress and a Black Tuxedo

What do you think about a marriage?

When I hear a word marriage,
a white laces dress with beautiful pearls,
a man with the balck tuxedo,
a bouquet of white roses,
a garden simple party with white lilies around..
and Nat King Cole's song.. "LOVE"..
playing around in my head..

Yesterday was Wirya and SanSan's wedding day.
Just like the another wedding party,
we sang, we ate (one of my favorite part, best I mean. haha),
and captured photo.

Many smiles spread around the room, love it.
It was a simple party, with a simple decoration.
But a very beautiful moment.
And delicious food. Sure!

Cukup bahasa inggris-inggrisnya. ribet. hahaha
Hemm.. beberapa waktu lalu gue membuat tulisan pertama gue untuk Prajna Pundarika (can't wait to see it).
Gue menulis untuk liputan acara nikah masal yang diadakan pada acara WNR DKI 2010 lalu. Gue ada sedikit cerita tentang WNR ini beberapa waktu yang lalu.
Gue mewawancarai beberapa pasangan untuk bahan tulisan gue.

Kemarin, di acara Wirya dan SanSan, gue teringat kembali akan kisah pasangan-pasangan yang gue wawancarai.
Usia pernikahan mereka sudah kurang lebih setengah abad.
Wajah mereka sudah tak lagi sekinclong Wirya dan SanSan kemarin.
Udah dibanjiri lipatan dan "tauco" atau totol-totol hitam tanda penuaan.
Ada kisah seorang Bapak yang bercerita tentang betapa sulitnya masa awal pernikahan mereka karena tidak adanya cinta diantara mereka.
Tatapan gue kembali kepada pasangan Wirya dan SanSan yang sedang asik berdansa dan menunggu saatnya wedding kiss.
Rasanya moment itu memang tidak hanya ditunggu oleh mereka, melainkan kami yang asik menanti "ayo, ayo cepetan deh wir!" hahahaha..
Wajah SanSan cantik luar biasa hari itu.

Gue membayangkan bagaimana wajah istri si Bapak itu sewaktu ia melangsungkan upacara pernikahannya. Apa senyum cantik SanSan di hari itu juga ada padanya?
Rasanya, tidak.
Singkat cerita, si Bapak dan Istrinya mendapat kesempatan untuk mengindahkan kembali kehidupan pernikahannya. Begitu banyak pelajaran yang di dapat oleh si Bapak untuk membangun cinta dalam keluarganya.
Begitu banyak yang harus Ia mengerti dan Ia rubah dalam hidupnya.
Kini ia sedang membangun benteng keluarganya dengan cinta dan kasih sayang.
Ia ingin menjadi sosok Ayah dan Suami yang baik bagi keluarganya.
Itulah sebuah pernikahan dalam ceritanya.

A real marriage starts when the party is over.
The dance starts when the song is over.
And a word "Love", starts it's role from now.

It's not about how long the dress, how glorious the party does..
But it's about you, me, and us.

"L is for the way you look at me
O is for the only one I see
V is very very extraordinary
E is even more than anyone that you adore can"
(Nat King Cole - LOVE)

Happy wedding Wirya, Sansan.
Have a lovely marriage!
So happy for both of you, really happy :)

nb : pernikahan kalian berkesan sekali buat gue. hahaha

Cheers,
Davy

Minggu, 10 Oktober 2010

a Girl with a name : Davy Andry

Still remember when I asked you about things that make a girl looks beautiful?

a flowery dress?
a bow on your head?
what else? such a pink stuff?
many kinds of girly things that you can choose.

But there's only one thing that you must have!
and you can't buy it.

It's you.
Yourself, however.. whatever..
It's you and your intuition as a girl.
Even sometimes people forget or they can't see who you are,
you and your intuition never.

Yap, gue anak perempuan.
Gimanapun cara gue bicara, warna apapun baju yang sering gue pakai,
Dan siapapun nama gue.

Davy Andry.
Davy Andry Budiono adalah nama gue.
"Budiono" entah bagaimana caranya raib dari kesatuan nama gue.
Dan sekarang yang tersisa di akte dan KTP gue adalah Davy Andry.
Ketiga kata tersebut merupakan nama yang biasa dihibahkan kepada anak laki-laki.
Apa gerangan yang membuat gue dianugerahi nama itu, gue juga gak tau.
Bokap gue yakin dan percaya bahwa dirinya sejak dahulu kala memang menginginkan anak perempuan, jadi sama sekali tidak ada niatan membubuhi nama laki-laki untuk putrinya tercinta ini.
Penyebutan Davy yang beliau maksud juga sebenarnya = "Devi",
alih-alih cara baca bahasa Inggris.
Kalo sekarang gue dipanggil "Davi", gak ada satu orangpun yang bisa gue salahin.
Termasuk bokap gue.
Tenang, Pa.
Apalagi sekarang gue terlanjur sayang sama panggilan "Davi" ini sendiri.
Walau sudah biasa kalo nama gue dalam suatu daftar tertentu ditulis sebagai kelompok anak laki-laki. (bukannya liat-liat dulu kek orangnya yang mana baru masukin ke kelompok)

Beberapa waktu lalu (dan mungkin masih sampai beberapa waktu ke depan),
gue mendapati julukan waria karena kemacoan yang gue miliki.
Sekali lagi, jangan bayangkan maco secara fisik. Tolong. Terima kasih.
Hal ini terjadi karena mereka melihat gue yang "kaku".
susah luwes, barbar, dan beberapa lainnya.
Mereka merasa ketika berinteraksi sama gue, gak berasa "ini anak perempuan".
Mulai dari cara mereka ngeledek dan sebagainya.
Malam itu gue gusar.
Gatal.
Waswas.

Gue merasa gue udah melakukan banyak hal sejak jaman SMA sampe kuliah untuk masalah satu ini,
pemilihan baju, cara merawat diri, cara sms, dan beberapa yang lainnya.
Lalu?

Ternyata gue melupakan satu hal teranyar yang harusnya ada di list no.1.

"Ini cuma 20% of failure kok, penampilan udah cewe, tinggal dibenerin dikit aja. Mungkin lo kurang mengikuti naluri anak perempuan lo, dek.", (kurang lebih begini) kata Vinny.

Deng..Deng.. apa itu?
Ternyata banyak hal yang berlawanan dengan apa yang sebenarnya gue ingini yang gue lakukan.
Banyak benda yang gak jadi gue beli karena hal ini.
Banyak kesempatan ngobrol sama cowo-cowo kece raib karena hal ini. (loh? hahaha)

Many songs that I couldn't sing,
many words that I can't say,
many dance left behind,

and now..
I'm ready to be a young girl.. young lady.
I'll be who am I supposed to be.. :)

and yes, my name is
Davy Andry.
Let me be the 1st girl with that name.
hahaha..

Selasa, 21 September 2010

Yoko dan Bibi Lung

Masih ingat salah satu film silat Asia tersohor sepanjang masa,
yang dibintangi aktor sipit yang ketampanannya tak lekang dimakan usia (alias dari lahir sampe ubanan, gantengnya gak luntur-luntur),

"The Legend of Condour Heroes"
a.k.a
Pendekar Rajawali.

Belum lama ini, di tengah antrian TransJakarta jurusan Pulogadung atau T.ugas (diantaranya),
gue serasa menonton potongan adegan si Yoko dan Bibi Lung.
Sekedar penyegar ingatan, Yoko itu si Andy Lau (sang pendekar rajawali) dan Bibi Lung (a.k.a putri naga kecil) adalah tante-tante yang jadi kekasih hatinya sang pemeran utama.

Si Yoko gadungan berpegangan tangan bak pose-pose andalan di tiap foto-foto pre-wed.
Dia memeluk si Bibi Lung gadungan seolah mereka lagi dalam bahaya atau perang melawan musuh dan Bibi Lung terancam bahaya kalo-kalo ga dipegangin atau di peluk.
Si Bibi Lung, yang kalo dari yang gue tangkep tampak menikmati perannya, menyenderkan kepalanya ke dada Yoko yang tampaknya juga menghayati peran.

Sebenernya entah mengapa waktu gue melihat mereka, di kepala gue terbayang film Pendekar Rajawali. Buat gue saat itu, mereka sangat Yoko Bibi Lung! Di tengah antrian puanjaang mahadasyat dan panas (ditambah pengap), mereka tetap berpelukan dalam berbagai pose.
Si Yoko ceritanya melindungi Bibi Lung dari marabahaya desakan para penumpang busway (termasuk gue) yang sudah mulai kalap ingin cepat sampai ke rumah masing-masing, si Bibi Lung tampak melemahkan diri dan terus berganti gaya di pelukan pendekar rajawalinya, seolah membutuhkan transfer tenaga dalam seperti yang sering dilakukan di film aslinya.
Dan akhirnya rajawalinya datang, bus transjakarta maksudnya. Ada gambar burungnya toh?
(itu burung apa ya ngomong-ngomong?)

Tidak ada yang salah di situ. Kecuali di tengah antrian ada orang yang baru putus, baru batal nikah, atau apapun kejadiannya yang intinya baru kehilangan pasangan.
Pasti mereka memaki dalam hati karena membuat suasana antrian semakin panas dengan aksi P.D.A (public display affection) yang dimainkan oleh Yoko dan Bibi Lung tadi.
Yang jadi masalah, setidaknya buat gue, ialah ketika aksi yang mereka lakukan membuat antrian di sekitar gue makin sempit karena perubahan-perubahan pose yang mereka kerjakan.
Well ya sedikit risih mungkin, tapi lumayan juga sebenernya buat jadi hiburan di tengah antrian macam begitu.
Kadang adegan mereka memberi hiburan loh. Sampe ke khayalan Pendekar rajawali ini misalnya. Lumayankan?

Belum lama ini temen gue berisik soal aksi P.D.A yang beredar di twitter.
Well, ya buat gue no prob sebenernya.
Sadar gak sadar karena terlalu bahagia atau mabok kepayang kita lupa daratan.
Hak kok.
Asal gak sampe bikin mata sakit aja, entah takarannya apa, yang pasti tidak membuat gue mengeluarkan reaksi "iyuuhh".
Atau, tidak mengganggu apa yang gue lakukan.
Itu buat gue.
Setiap orang punya pertimbangan berbeda.
Dan apapun bentuk responnya, baik atau buruk,
frontal atau tidak, sama halnya dengan tadi,
itu hak kok.

Tapi baik aksi yang dilakukan maupun respon yang dihasilkan,
gak bisa seenak sendiri kalo menurut gue.
Karena ketika menyangkut orang banyak,
kalimat "dunia milik berdua" atau "Mulut, mulut gue"
buat gue, itu gak ada. :D


Senin, 06 September 2010

Siapa yang Bikin Sebab??

"gmna kbr Indo msh blm hncur tah" (si rese)

"dasar, sombongnya"

"bah dsni mah beda jauh ma indo, gk ada aman2 na dsna. ckckc dsni mana ada kek gtu. =.= I hate that" (si rese)

"gih, di sana aja gih, gak usa balik lagi ke sini."

"wew" (si rese)

Setelah itu pembicaraan jadi garing dan terhenti.
Nyesel ngobrol sama tu orang.
Baru seminggu, keluar negeri. Ngomong bahasa Inggrispun sebenernya masih blepotan.
Bahasa Indonesianyapun belom lancar.
Bahasa mandarinnya juga kaya kacang goreng (apa hubungannya bahasa dengan kacang?).

Ya, ini cerminan diri gue, lo, kita.
Gak bisa dipungkiri Indonesia masih macet, masih banyak kesemrawutan.
Kebersihan yang minim, kondisi fasilitas umum yang gak terawat.

Tapi itu semua AKIBAT.
KITA yang jadi SEBABNYA.

Kita yang gak mau nunggu bis di halte, sepanjang jalan jadi halte dadakan.
Apa iya angkot akan berhenti kalo gak ada yang nunggu?

Kita yang buang sampah di got, di kali, gak mau repot sedikit cari tong sampah atau simpan sebentar. Sampah darimana di sepanjang kali sama jalan kalo ga ada yang buang?

Gue, elo, kita.. yang buat sebab ini.
Itu juga gak bisa dipungkiri.


Rabu, 18 Agustus 2010

Kita Sama Toh?

I'm sitting in front of my blank paper,
thingking what am I supposed to write about...

"Budaya adalah keseluruhan sistem sosial masyarakat. Bagaimana membangun Indonesia yang punya kebanggaan, keteguhan, tidak minder, dan malu korupsi?"


Itu tema yang akhirnya gue pilih untuk mengikuti sebuah kompetisi esai yang ditawarkan beberapa waktu lalu. Dan gue masih blank! hahaha

Tiba-tiba gue teringat 2 hari yang lalu gue duduk di sebuah studio stasiun Tv menonton sebuah acara bertajuk ekonomi secara live.
Berhubung gue gak ngerti sama sekali sama urusan perekonomian, gue berusaha menyimak dengan sebaik-baiknya.
Gue yakin alam semesta raya jadi saksi atas usaha gue hari itu untuk paling tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan.
Gak beda dengan beberapa teman gue,
alih-alih masuk Tv; iseng-iseng; pengen tahu, dan berbagai motif pribadi lainnya.

Membangun optimisme perkembangan perekonomian bla bla, kalo gak salah.. itu tema yang diangkat pada hari itu.
Semua penonton pada hari itu merupakan generasi muda,
berasal dari beberapa universitas di Jakarta dan sekitarnya.
Kecuali kami. hahahaha...

Gue duduk diantara mahasiswa hukum yang gue lupa darimana aja mereka berasal.
Awalnya usaha gue menyimak pembicaraan Bapak Menteri (yang kapan lagi coba gue bisa denger langsung kalo bukan dari tipi! hahaha) berjalan mulus.
Lama-kelamaan, kuping gue panas.
Cuma satu yang pengen gue lakuin,

balik badan,
POWWW!!!
ngasih bogem buat mereka yang duduk di belakang gue!

Tapi itu tidak gue lakukan! hahahaha..

Gue memang tidak terlalu mengerti dunia politik dan perekonomian.
Tapi gue sangat menghargai orang yang berbicara di depan itu tentang optimisme perbaikan bangsa.
Gue cukup kagum mendapati fakta bahwa Indonesia sebenarnya cukup berkembang pesat.
Sekarang menduduki posisi 20 besar dunia menjadi negara terkayaa.
Lumayan loh, pasalnya Indonesia seblumnya hampir terbawah.
Masih banyak yang kemarin akhirnya gue ketahui.
Di luar dari berbagai hal yang salah di negara ini.
Indonesia! kamu keren loh! kikikikik!

Nahhh!!!
Sepanjang pembicaraan di depan berlangsung, kasak-kusuk di belakang gue kian meriah.
"halaaahh.. bulsit! bulsit! bla.. blaa.."
"dasar aja, ngomong bisa, blaa.. blaa.."

dan yang paling sopan,
"bla..bla.. setanlah!"

Mereka tak berhenti mengkritik dan mencaci sepanjang acara.
Mereka mengenakan jaket yang menandakan mereka mendapatkan ilmu dan didikan layaknya generasi muda Indonesia yang memiliki pendidikan dan "dididik"!
Mereka memilih berkasak-kusuk di bangku penonton (dibelakang gue tepatnya) dibanding bertanya pada saat diberi kesempatan.
Mereka tak menyelipkan sedikitpun solusi ditengah kritikan mereka.

Sepuluh tahun lagi, gue pengen liat, mereka bisa ga si duduk dan berbicara di kursi yang sedang gue tonton itu?
Bisa lebih baik dari itu?

Ketika mereka mengkritik si Bapak di depan itu dan menyalahkan berbagai sistem dan para petinggi negara ini, bahwa semua itu adalah penyebab "ringseknya" Indonesia.

Maaf ya, adanya generasi muda kaya LO yang bikin jadi runyam!
Gue sadar, gue juga gak jauh beda sama lo,
pengeeeen banget rasanya gue langsung berbalik dan ngasi bogem.
Well kalo nyali gue ciut, mungkin paling engga.. gue akan mencaci.
Sama toh kita?

Kita sama-sama tukang kritik yang bahkan gak berpikir dulu?
Kita sama-sama cuma bisa main bogem?


Terimakasih teman, gue juga sering seenak jidat mengkritik dan meremehkan kepengurusan negara ini.
Malam itu lo bikin gue sadar, betapa "sampah" gue pada saat itu.
Terimakasih.

Belakangan ini gue belajar sesuatu,
untuk mencapai sesuatu yang besar, pasti banyak di tengah jalan yang kelihatan salah.
Banyak proses yang harus dilalui.
Demi sesuatu yang besar.

Jangan salahin pemimpin lo di tengah jalan,
jangan pilih dia kalo lo gak percaya sama dia.
Jangan berani-berani lo menghina dia kalo..
lo bahkan gak menghargai hak suara yang lo miliki dulu.

Waduh, udah jam 4! Selamat pagi! :)
Hoi jaket hitam dan hijau, semoga kelak kita (gak) berjumpa lagi!
Bwahahahaha..

Hal terakhir yang gue ingat sebelum pulang, gue berbicara nyaring-nyaring menyindir mereka yang gak jauh dari tempat gue berdiri dan Rica panik meminta gue diam dan masuk ke mobil buru-buru.
Hwahahaha.. Maap.. Maap.. Emosi. hahaha

Rabu, 11 Agustus 2010

San Ci Pa - 2

Oke, ini kelanjutan dari San Ci Pa bagian pertama.
Sebelumnya, ada yang bertanya kenapa judulnya begitu..

Alasan pertama, gue tidak terpikir judul yang lain.
Alasan kedua, san ci pa sering digunakan untuk sebutan "tipu-menipu" ala orang cina-cinaan.

Nah, kelanjutan nasib kelabilan gue dari yang sebelumnya, gue merencanakan penipuan yang lebih ekstrim (atau bisa dibilang lebih tolol).

Kali ini bukan lagi tentang si "No", sudah berganti cem-ceman (baca : gebetan) ceritanya.
Waktu itu gue pede seolah-olah sudah belajar dari kesalahan di masa lalu sehingga gue merasa sudah pasti lebih jujur.
Memang, penampilan.. sekolah.. gue gak bisa nipu (Nah loh? berarti kalo misal bisa, gue nipu lagi donk? hwaahhaha...).
Hingga suatu ketika, yang LAGI-LAGI di kali pertama gue pergi jalan sama dia.

*Oh Tuhan kenapa harus selalu di yang pertama?

Gue gak bisa menyalahkan nyokap gue yang waktu itu kekeuh meminta gue pulang ke rumah malam itu juga sepulang gue pergi jalan sama si cemceman ini.
Toh memang belakangan waktu itu gue kangen pulang.
Tapi di situ awal bencana terjadi.

Sehabis jalan, entah kena angin apa.. dia bisa-bisanya mau nganterin gue pulang ke rumah gue yang berlokasi di ujung daratan Jawa ini.
Oke, lebay.. di ujung deh pokoknya.
Dadap.. ada yang tahu? hwahahah...
Entah dia mau bergaya, ceritanya baik dan keren mau nganter gue atau gimana deh.
Akhirnya, meluncur deh saya menuju daratan Dadap.

Singkat cerita, gue gak pede sama rumah gue.
Gue puter otak (andai bisa dikocok mungkin udah gue kocok) sebisa mungkin supaya hari itu dia gak perlu mendaratkan gue di depan rumah gue.

Tiiingg!
Muncullah sang ide cemerlang!
Gue berniat "memindahkan" rumah gue ke rumah nenek gue.
Ngaku-ngaku rumah nenek gue itu rumah gue tepatnya.
Kebetulan rumahnya gak jauh dan selayang pandang, lebih nikmat dipandang dibanding rumah gue.
Gue menelepon nyokap gue berkali-kali dan secara DIAM-DIAM!
Bayangkan saudara-saudara! Betapa nikmat kencan pertama saya di malam itu!

Gue bernego sana-sini sama nyokap mengenai nasib identitas rumah tercinta.
Yang berujung "Udahlah, Nak. Pasrah aja. Kalo dia terima, ya terima apa adanya kita."
Lahhh...
Gue ngakak seketika (dia heran waktu itu), berasa kaya di sinetron.
Gue pasrah.
Bener-bener pasrah.
Tapi sejujurnya belum berlapang hati.
Gue berdoa!
Sumpah gue gak berhenti berdaimoku (baca : membaca doa) sepanjang jalan sampai bener-bener sampe di rumah.
Entah apa yang gue doain,
supaya ada keajaban yang mendukung kebohongan gue bisa terjadi,
atau supaya dia menerima apa adanya.

Well, beberapa bulan kemudian kalo gak salah..
Si cemceman sah jadi pacar gue yang pertama..
Berarti rumah gak jadi urusan, toh? ahahaha..
Dan sampai beberapa saat lalu gue baru habis ngobrol sama dia,
dan gue bertanya-tanya.. dia tahu gak ya waktu gue telponan sama nyokap?
Masa gak tau sih?
Kalo diinget-inget gue bodohnya telponan di belakang dia deh! bwahahaha...
Ya sudah lah, kapan-kapan gue tanya ahh.. hahaahaha...

Yaa.. belakangan ini gue akhirnya menyadari.
Bukan dia yang harus menerima gue apa adanya,
tapi...

Gue!
Gue yang harus berani melihat siapa diri gue.
Gue yang harus menerima diri gue,
seperti apapun itu..
jeleknya.. bagusnya..

Ya.. itulah saya.. Davy :)
Seperti apapun rumah gue, dimanapun lokasinya..
Sekolah gue.. Sikon ekonomi gue..
Semuanya.. :)

Termasuk hal yang baik yang bisa gue lakukan!
Termasuk apa yang bisa gue karyakan! :)

Davy,
menunggukapan
adakencanpertamanya
lagi...
*yang menyenangkan ya pastinya! hwaahahaha..

San Ci Pa - 1

"Udah sampe dimana, Dev?"

"Bentar yah, masih dijalan nih, maceet No!" (sebut saja No-padahal emang sebutan aslinya, bodo ah! hwahahahah)"

"Kok berisik banget Dev? emang udah dimana?"

"Duh bentar yah, lagi buka kaca nih, makanya berisik banget, No."

"Oh.. Oke.. cepetan yah"

Singkat cerita itu adalah pembicaraan gue sebelom berjumpa dengan tambatan hati (tepatnya "kasih gak kesampean") waktu itu di MTA.
Hari itu setelah lama bersusah payah akhirnya kami dapat berjumpa.
Senang tak terkira, deg-degan, takut, berjuta indahnya!

Tapi, ada yang kurang indah ternyata.

"Tadi macet banget yah? Nyetir sendiri yah Dev?"

"Heem? oh.. iya nih"

.........

Begini, gue naik Kopaja. Kopaja 95 jurusan Rawa Bokor-Tmn. Anggrek tepatnya.
Gue memang buka kaca, tapi mau itu kaca dibuka atau enggak, namanya di bus,
pasti berisik gak karuan.
Ya ada yang lagi ngamen, ada yang nagih uang ongkos, ada yang nangis,
belom lagi yang paling meriah ya bunyi "greeengg.. greeengg" dari mesin kopajanya itu sendiri.
Buka kaca apa coba?

Gue tidak nyetir sendiri.
Kecuali pada saat itu gue nyetir kopaja di hari yang boleh dikatakan kencan pertama itu (ce elah, kencan loh! hahaha).
Astaga, gak kebayang gue nyetir kopaja! hwakakakakka!
Gue naik angkot!
Bukan naik mobil pribadi seperti yang dia kira ataupun yang gue "iyakan''.

Itu hanya secuil kecil bohong-bohong dodol yang gue lakukan.
Gue men-setup penampilan gue sedemikian rupa untuk bohong sama dia.
Gue bohong tentang sekolah gue.
Gue bohong tentang pulang sekolah yang gue naik angkot (kalo gak salah dia kira gue sama seperti dia, pulang pergi adem ayem naik mobil pribadi atau sejelek-jeleknya nebeng mobil temen).

....

"Tinggal dimana si sekarang, Dev?"
"Daera Tangerang situ deh No, tau gak? gak jauh-jauh amat dari Cengkareng."
(iya, gak jauh-jauh "amat" ya neng? hwahahaha)
"Gue di Kosambi Dev, lo dimananya?"
"Loh? Gue di Kosambi juga kok, No?"

Sungguh pada saat itu gue tau "Kosambi" versi dia dan punya gue berbeda "Jauh", well ya gak jauh-jauh "amat" lagi ya! hwahahaha..
Tapi gue menyama-nyamakannya.
Untung dia gak nyari alamat detil gue karena gue akhirnya membuat dia pusing dengan berbagai jurus kamuflase alamat.
Entah jenius atau bodoh sebenernya gue pada saat itu.
Rasanya bedanya tipis.

Apalagi ya yang gue bohong-bohongin ke dia?
Ah bohong paling terakhir yang paling asem itu..
tentang perasaan gue deh kayaknya. loh? hwahahah..

Ini terjadi sekitar.. emm.. berapa ya?
Kalo gak salah, setahun lebih yang lalu.
Eits apa hampir 2 tahunan deh.. hahaha

Ini kisah awal gue mulai berbohong bukan untuk urusan tidur siang ke nyokap,
ataupun berbohong untuk pergi ke mall sama temen-temen gue yang dulu pernah gue lakukan.
Ini kasus berbohong ala abg labil..
Yang harus belajar.. :D

Hayo.. belajar apaa? :) :)



Selasa, 03 Agustus 2010

He's Just Not That Into You

I had a late nite chat on the phone with my friend last night..
She's one of my best friends.. :)

We had a fun girl's talk.
When love, life lessons, and dreams are blended in. :)
And a little gossip also.
*yakiiin a little?? hahahaha
Don't you ever named it a girl's talk if a gossip doesn't "rocks" on it! hahaha

Oke, berhubung pembicaraan itu memakan waktu selama 3 jam!
Jangan meminta gue menuliskan apa isinya, sama aja dengan gue membuat script sinetron atau telenovela.

Beberapa malam ini dia lagi dilanda gundah gulana hebat (dan rempong, baca : repot).
Biasalah, urusan anak muda.
Cinta-cintaan menjadi biang recok.
Hari ini dia karokean, gue gak bisa ikut. hehehe
Gue berharap dia dangdutan atau apa deh, ngerock juga boleh.

Ohh.. gue merekomendasikan dia sebuah lagu dengan potongan lirik seperti ini,

I know
You don't really see my worth
You think your the last guy on earth
Well I've got news for you
I know I'm not that strong
But it won't take long
Won't take long

Coz someday, someone's gonna love me
The way, i wanted you to need me
Someday, someone's gonna take your place
One day I'll forget about you
You'll see, i won't even miss you
Someday, someday

Lagunya Nina yang judulnya Someday.
Enak loh, salah satu lagu patah hati terenak sepanjang masa.
Hwahahaha..
Hei kawan, sometimes S**T happens :D
But it doesn't always became s**t if you make it sweet!

Maybe he's just not that into you!
FACE it!

Ce elah..hahahaha..

Kayaknya dia sekarang lgi telponan sama si "itu".
Apa yang terjadi ya habis ini?
Semoga gue mendengar kabar baik. hahahaha..

Anyway, seneng cerita-cerita sama dirimu, kawan.
Gue jadi belajar banyak hal dari lo :)
Kapan-kapan gue jadi ah nginep beneran di rumah lo.
Kita cerita-cerita sampe matahari terbit.
Apa kali tuh yang mau diceritain ya?
Hahaha...

Davy,
yanglagi
pengenmeluk
temantemannya :)

Jumat, 16 Juli 2010

Yang Berlalu, (TIDAK BISA di-) Biarkan Berlalu

Di tanggal 14 Juli lalu, di siang hari menjelang kedatangan Rica tepatnya,
Gue buka si binusmaya dengan tujuan luhur mengecek status pembayaran (status pelunasan utang tepatnya! ahahaha).
Sekalian gue buka juga si jadwal ujian susulan gue, lagi-lagi dengan tujuan luhur disertai semangat menempuh ujian (preeet! haha..tapi bener loh ini! hihi).
Dan gue tidak mendapati jadwal gue di sana, yasudah, gue tutuplah itu website berbudi luhur.
Siangnya gue berangkat (bersama Rica, nemenin dia makan bakso dulu) ke JP-Jalan Padang.

Malemnya gue bertolak pulang ke Dadap.

Temu kangen sama kasur di kamar.

Kamar yang kata mama sempet dihuni penghuni lain karena kelamaan kosong.

Jangan mikir yang enggak-enggak, penguhinya itu kecoak maksudnya. Iyaiks!

Jangan mikir dalam jumlah yang banyak terus mereka merumahkan diri di kamar gue ya.

Enggak kok!

Hii... *amit2, ketok meja 3x*


Besoknya gue temu kangen sama si sahabat tersayang, Yoel Christian :D

Gak lupa membeli jus strawberry sebagai nostalgia! hihihi..

(Teengkiuuu Yoeeel :D )

Dari situ lanjut ke rumahnya si Pipi, maap maap aja ya jadi gangguin yang lagi pacaran. haahaha...

Naahhh.....
Gara-gara Yoel kepoh pengen liat nilai gue, gue buka lagi tuh si web berbudi luhur.

Habis liat nilai (yg agak mengecewakan sebenarnya, jangan tanya berapa aja, awas!),
gue liat lagi dong si jadwal susulan.

Kaget 1

"Wah besok pi!", kaya si Yoel.
Oke, ternayta tiba-tiba besok ujian, berarti harus hijrah kembali ke kamar kost keesokan paginya.


Kaget 2

Sebelomnya, ini terjadi setelah kedua kalinya web itu dibuka karena ada perasaan janggal.

Gue sama Yoel membaca baik-baik tanggal yang ada di atas, pada satu-satunya kolom yang anehnya warnanya lain.


DAAANGG!!

Ternyata ujian susulan perdana gue berlangsung hari itu, pada pukul 15.00!
Dimanaaaa..pada jam tersebut gue sedang berleha-leha di kamar sambil nonton tv!
Well ya, mengingat sudah lama sekali gue tidak nonton Tv.

*itu sekitar jam 8 atau 9 malem

"Bwahahahahaha!!"
Abis ketawa, stres gue!


"Aduh, gue panik nih el!!"

Abis itu, ketawa lagi,

"Bwahahaha!"
Akhirnya stres gue berkelanjutan sampe pulang ke rumah.

Okelah, ini pelajaran berharga, walau agak bodoh.

Ini tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja.

Apalagi mendapatkan si susulan ini setengah mati. Hahaha..

Baiklah, besok perjuangan gue mengembalikan ujian ini akan gue lanjutkan.
Semoga si mbak baik hati itu bisa diajak kompromi.
Icinen! haha..
Kalo sampe gak bisa, kita cari cara laen.
Pasti ada!
Eits, harus ada! kekeke.. :D :D

Tak lupa, terimakasih pada berbagai pihak yang tetap mendukung saya.
Lohh? hwahahaha..

Senin, 03 Mei 2010

Anak Bapak Kayaknya Baik Loh

Tadi pagi tiba-tiba si Ayahanda datang.
Pertanyaan seperti biasa (dan paling gue senangi),
"Udah makan belom?"
"Beloom!"
"Mau makan apa?"
"Bakmieee!"
"Sabar menanti?" (Ini sebutan bakmienya, dulu kami namai begitu karena kalo mau makan harus sabar menanti alias ramaaaii sekalii)
"Iya!"
"Yuk!"

Ngeeeng...
Sampai di sana, makan, ngobrol, minum, makan lagi, ngobrol lagi.
Eh ada Om-Om di samping gue, tampaknya dia makan sambil menyimak.
Babibu, tiba-tiba dia berkata pada si Ayahanda,

"Anak Bapak kayaknya baik loh, Pak!"
Bwahahahaha XD

Aduuh Om, saya emang anak baik kok.. hahahaha XD
(yah walau dia menambahkan kata "kayaknya", tapi paling gak gue lulus uji tahap pertama ciri anak baik di mata calon mertua kelak..Bwahahahahaha)

Begitu sudah mau selesai dan sedang melangsungkan kegiatan bayar-membayar,
Si Om berkata lagi,
"Kamu anaknya yah bener?" (Bertanya ke gue, tampaknya dia tidak yakin..hahaha)
Bener Om, itu Papa saya Ooomm.. hahahaha

Ternyata si Om itu juga salut sama perbincangan gue sama Bapak gue tadi,
dia bilang jarang Bapak ama Anak bisa ngobrol panjang lebar seperti yang gue lakukan tadi.
Kadang ternyata gak mudah untuk ngobrol sama orangtua, gue bersyukur gue bisa melakukan itu.
Walau gak selalu obrolannya jadi seru,
gue selalu senang riang gembira kalo mau diajak makan,
gue dianterin kemanapun gue mau pergi, gak peduli jam berapapun itu (kalo emang gue butuh ya :) )
gue mendapatkan apa yang gue butuhkan sampe hari ini,
orangtua gue selalu berusaha memberikan apa yang gue mau walau ya tetep dilihat kebutuhannya juga,
gue bisa menghabiskan waktu nonton tv bareng sambil ketawa-ketiwi sama mereka..
Obrolin apapun, bahkan cem-ceman. haahahaha..

Hemm..entah si Om bisa atau enggak,
gue harap begitu dia pulang nanti, dia mengajak anaknya ngobrol.
Dan kalo nanti bertemu lagi di Bakmie "Sabar Menanti",
dia makan bersama anaknya. :)

Sampai jumpa, Om. Terimakasih juga. hihihi