Minggu, 26 Desember 2010

Gimana Kalau..?

Beberapa hari yang lalu, di tengah perjalanan gue menuju JP (Jalan Padang) untuk berkerja, eh nggak, untuk bertugas (gue lebih suka kata "bertugas", rasanya lebih cocok untuk apa yang gue lakukan. haha), well.. ga di tengah, itu sudah hampir sampai.
Anggap deh di tujuh-per-delapan perjalanan gue, gue berpapasan dengan seorang ibu-ibu tua di tengah jalan, dimana dia berdiri diantara jalur busway dan jalanan untuk pengendara umum.

Hari Rabu kalo gak salah hari itu, iya.. Rabu.
Si ibu mengenakan penutup kepala berwarna hijau terang, berkebaya motif bunga-bunga dengan warna yang pudar sana-sini, sembari membawa bungkusan plastik berwarna hitam.
Kulitnya coklat dan dipenuhi kerutan mulai dari ujung kepala hingga ujung kakinya.
Giginya sudah tak lagi dapat dipejeng, lebih-lebih dijadikan model iklan pasta gigi (pasta gigi apa coba??)
Dan hitam matanya, tertutup katarak bak kapas putih yang membungkus warna hitam matanya.
Ternyata, dia sudah tak mampu melihat dengan jelas, tentu, selain ketajaman penglihatannya yang telah tertelan usia, juga karena katarak yang merayapi kedua matanya.

Mendung, gerimis.
Gue berniat melesat segera ke JP.
Malas sejuta bahasa kalo sampe kalah kebut sama hujan dan gue harus kehujanan atau nunggu, melipir entah dimana untuk berteduh.
Dikejar waktu, salah, di kejar ibu-ibu pertemuan tepatnya.
Tapi begitu mau nyebrang, gue heran kenapa si ibu tua tadi diam aja.
Maju enggak, mundur juga enggak.
Akhirnya gue yang uda setengah nyebrang, mundur lagi (jadi gue yang mundur).

Gue tanya si ibu maunya kemana dan dimana gue berdiri, kemana pula dia memandang.
Oke, kesimpulan sok pintar gue berbunyi dia gak bisa melihat dan parahnya gak tau ada dimana.
lah terus kok sekarang bisa nangkring di tengah jalan gini ya?
"Ke Manggarai, neng"
"Lah ini uda di Manggarai, Bu. Manggarai belah mana?"
"Eneng mau kemana?"
"Manggarai, Bu."
"Ya udah saya ikut eneng aja ya. Yuk."
Lho lho? *mulai bingung*
"Lha ibu mau kemana?"
Tiba-tiba nangis, "Saya mau pulang aja neng, ke Pasar Rumput"
Nah loh? mampus gue, bisa dikira nangisin nenek-nenek tengah jalan nih. Asal jangan dikeroyok masa aja. Terus sebenernya kemana dia maunya? Manggarai? Pasar Rumput?
*makin bingung*

"Jadi mau kemana nih bu?"
"Stasiun Manggarai neng"
Oh, oke. Bilang atuh bu ada embel-embel stasiunnya. hahaha
Dia gak tau naik apa, gue tanya sama abang-abang bajaj yang nangkring di situ, sejak si ibu berdiri di situ dan dia gak bergeming.
Si abang bajaj bilang naik metro mini (lupa kodenya berapa) yang ternyata nangkring di seberang tempat gue dan si ibu berdiri, oh juga abang bajaj beserta bajajnya.
Akhirnya gue tuntun si Ibu nyebrang menuju metro mini.
Sempat-sempatnya si Ibu curcol bahwa di tujuannya nanti dia akan dimarahi sama adiknya (yg entah kenapa gue tiba-tiba terbayang adegan nenek-nenek di maki-maki tante-tante, efek sinetron. Sebut saja "Cinta Toni atau siapa deh". Hwahahahahah)

Gue bingung sesaat, setelah gue naikin dia ke metro mini dan gue titipin sama salah satu penumpang (yang sekilas insting gue mengatakan dia bisa diandalkan), seandainya si Ibu udah sampe Manggarai, gimana ya? Sampe gak ya ke tempat adiknya?
Rempong juga ya naik metro mini, jalan aja uda susah.
Aduh.

Gerimis berubah menjadi rintik-rintik hujan dan butir airnya kian membesar.
O ow.
Gue buru-buru meninggalkan si ibu dan metromininya setelah si ibu berkali-kali meletakan tangan gue yang menggandengnya ke kepala dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Gue lari-lari ke JP.

Sorenya gue cerita sama Boy (catat, bukan Ongki Alexander di film "Catatan si Boy") dan dia bilang "kalo gue jadi lo mending gue naikin ke bajaj, dianter sampe stasiun n bayarin sekalian. Ongkos dia aja belom tentu punya, tau arah mau kemana kan juga enggak dia". Kurang lebih begini si Boy bilangnya.
Gue baru terpikir.
Tersentak.
Iya ya.. gue tau dan gak perlu diperjelas..
ongkos yang dimiliki si ibu sangat disangsikan.
Dia yang riskan banget naik metromini dengan keadaan gitu.
Dari stasiun dia tau mau kemanapun, juga disangsiin walau dia tau mau ke rumah adiknya.
Kenapa tadi gak gue naikin aja seperti yang Boy bilang.
Bukan.. gue bukan gak terpikir.
Tapi gue gak mau peduli sedikit lebih lagi buat dia.
Gue peduli gue yang harus segera sampe di JP, balapan sama hujan yang toh gak memburu.

Berhari-hari sampe hari ini, gue kepikiran sama si Ibu itu dan gue nyesel.
Dia sampe ga ya di rumah adiknya?
Bayar dan turun dari metromininya gimana ya? Ada yg bantuin gak ya? Gue ingat si abang bajaj yang cuma ngelirik si ibu tadi sejak dia berdiri bingung di tengah jalan, berarti ada kemungkinan gak ada yang bantuin ibu tadi donk?

Dimarahin gak ya dia sama adiknya?
Kalo dia berhasil sampe di rumah adiknya....

Gimana kalo, kita ketemu ibu-ibu tadi dan bayangin kalo itu nyokap kita?
Gimana kalo itu Ibunya si abang bajaj tadi? Apa dia masih diam aja pelongoin nenek-nenek buta arah di tengah jalan yang salah-salah bisa disamber bis?

2 komentar:

  1. unyuu deh! ya udah, however, udah jadi pelajaran idup kan dav. next time, seharusnya kita sudah tau harus berbuat seperti apa :)

    BalasHapus
  2. satu kata, apa yg menurut gw bsa lo lakuin buat si ibu :doa aja dav.. kata yg akhirnya menjdi kalimat. hehe :D

    BalasHapus