Selasa, 21 September 2010

Yoko dan Bibi Lung

Masih ingat salah satu film silat Asia tersohor sepanjang masa,
yang dibintangi aktor sipit yang ketampanannya tak lekang dimakan usia (alias dari lahir sampe ubanan, gantengnya gak luntur-luntur),

"The Legend of Condour Heroes"
a.k.a
Pendekar Rajawali.

Belum lama ini, di tengah antrian TransJakarta jurusan Pulogadung atau T.ugas (diantaranya),
gue serasa menonton potongan adegan si Yoko dan Bibi Lung.
Sekedar penyegar ingatan, Yoko itu si Andy Lau (sang pendekar rajawali) dan Bibi Lung (a.k.a putri naga kecil) adalah tante-tante yang jadi kekasih hatinya sang pemeran utama.

Si Yoko gadungan berpegangan tangan bak pose-pose andalan di tiap foto-foto pre-wed.
Dia memeluk si Bibi Lung gadungan seolah mereka lagi dalam bahaya atau perang melawan musuh dan Bibi Lung terancam bahaya kalo-kalo ga dipegangin atau di peluk.
Si Bibi Lung, yang kalo dari yang gue tangkep tampak menikmati perannya, menyenderkan kepalanya ke dada Yoko yang tampaknya juga menghayati peran.

Sebenernya entah mengapa waktu gue melihat mereka, di kepala gue terbayang film Pendekar Rajawali. Buat gue saat itu, mereka sangat Yoko Bibi Lung! Di tengah antrian puanjaang mahadasyat dan panas (ditambah pengap), mereka tetap berpelukan dalam berbagai pose.
Si Yoko ceritanya melindungi Bibi Lung dari marabahaya desakan para penumpang busway (termasuk gue) yang sudah mulai kalap ingin cepat sampai ke rumah masing-masing, si Bibi Lung tampak melemahkan diri dan terus berganti gaya di pelukan pendekar rajawalinya, seolah membutuhkan transfer tenaga dalam seperti yang sering dilakukan di film aslinya.
Dan akhirnya rajawalinya datang, bus transjakarta maksudnya. Ada gambar burungnya toh?
(itu burung apa ya ngomong-ngomong?)

Tidak ada yang salah di situ. Kecuali di tengah antrian ada orang yang baru putus, baru batal nikah, atau apapun kejadiannya yang intinya baru kehilangan pasangan.
Pasti mereka memaki dalam hati karena membuat suasana antrian semakin panas dengan aksi P.D.A (public display affection) yang dimainkan oleh Yoko dan Bibi Lung tadi.
Yang jadi masalah, setidaknya buat gue, ialah ketika aksi yang mereka lakukan membuat antrian di sekitar gue makin sempit karena perubahan-perubahan pose yang mereka kerjakan.
Well ya sedikit risih mungkin, tapi lumayan juga sebenernya buat jadi hiburan di tengah antrian macam begitu.
Kadang adegan mereka memberi hiburan loh. Sampe ke khayalan Pendekar rajawali ini misalnya. Lumayankan?

Belum lama ini temen gue berisik soal aksi P.D.A yang beredar di twitter.
Well, ya buat gue no prob sebenernya.
Sadar gak sadar karena terlalu bahagia atau mabok kepayang kita lupa daratan.
Hak kok.
Asal gak sampe bikin mata sakit aja, entah takarannya apa, yang pasti tidak membuat gue mengeluarkan reaksi "iyuuhh".
Atau, tidak mengganggu apa yang gue lakukan.
Itu buat gue.
Setiap orang punya pertimbangan berbeda.
Dan apapun bentuk responnya, baik atau buruk,
frontal atau tidak, sama halnya dengan tadi,
itu hak kok.

Tapi baik aksi yang dilakukan maupun respon yang dihasilkan,
gak bisa seenak sendiri kalo menurut gue.
Karena ketika menyangkut orang banyak,
kalimat "dunia milik berdua" atau "Mulut, mulut gue"
buat gue, itu gak ada. :D


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar